(021) 2278 3385 / +62 812 9411 6724 info@bplfoundation.or.id

Hayy Bin Yaqzan bolehlah diartikan sebagai ‘hidup anak kesadaran’. Setidaknya begitu informasi terakhir yang saya dapat. Entah apakah ada lagi penafsiran atau padanan kata yang lebih tepat. Namun yang jelas nama Hayy Bin Yaqzan terlalu sering mendengung di telinga, setiap kali saya diajak bicara tentang manusia dan kesadaran kritisnya. Tentunya lakon tentang Hayy sudah datang ke dunia jauh sebelum Freire bicara mengenai kesadaran kritis, kesadaran naif dan kesadaran magis.

Bermula dari Ibnu Thufail seorang filosof asal Spayol yang berjasa membumikan sosok Hayy Bin Yaqzan. Saya sendiri tak benar-benar hapal kisahnya. Perkenalan saya dengan Ibnu Thufail dan Hayy Bin Yaqzan sudah dimulai sejak kurang lebih empat tahun lalu, mungkin juga lebih. Saat saya larut dengan pemikiran  Muhammad Natsir. Seorang negarawan cerdas yang populer dengan dua patah kata ‘politikus santun’. Natsir dalam kumpulan tulisan di Capita Selekta Kebudayaan, sempat sedikit membahas tentang Hayy Bin Yaqzan. Satu naskah yang hingga kini belum juga berhasil saya temukan naskah cerita aslinya—baik dalam bahasa terjemahan (Indonesia) maupun dalam bahasa Arab atau Inggris. Sayang sekali kisah Hayy seperti tertelan zaman diantara karya sastra yang terjebak budaya pop.

Ibnu Thufail menghadirkan sosok Hayy Bin Yaqzan dalam sebuah novel yang lebih mirip fiksi filsafat. Ceritanya hampir sama dengan Tarzan. Tanpa bumbu-bumbu asmara tentunya. Bahkan ada kalangan yang berpendapat kalau cerita Tarzan terinspirasi dari novel Hayy Bin Yaqzan. Tapi lagi-lagi keterbatasan literasi dan karya klasik dari para cendekiawan muslim membuat saya harus percaya begitu saja dengan ulasan singkat yang sudah dibuat oleh Muhammad Natsir.

Kira-kira begini lakon Hayy Bin Yaqzan yang melegenda. Syahdan, dalam pulau yang tak berpenghuni, hiduplah seorang anak manusia yang bernama Hayy Bin Yaqzan. Uniknya Hayy tidak punya ayah dan ibu—Natsir tidak menjelaskan apakah Ibnu Thufail sedikit banyak bercerita tentang asal usul keluarga Hayy. Biar begitu, Hayy tumbuh dengan baik di hutan. Dia cukup beruntung karena alam menghadiahkan padanya seekor kijang yang memberinya makan dan merawatnya hingga dewasa. Setelah dewasa, Hayy Bin Yaqzan menyadari bahwa dia berbeda dengan mahluk disekitarnya. Ini memacu Hayy Bin Yaqzan untuk mengeluarkan banyak pertanyaan tentang dirinya dan alam sekitar. Hayy terus bertanya-tanya akan hakikat dirinya dan tentang perbedaannya dengan mahluk lain yang ada di hutan. Tidak hanya itu, Hayy muda mulai berkutat pada pertanyaan-pertanyaan filosofis, bukan sekedar tentang wujudnya, tapi juga dunia sebagai sebuah realitas.

Pencarian Hayy Bin Yaqzan pun dimulai. Konon Hayy melakukan perjalanan untuk menaklukan kegelisahannya. Dia lalu singgah di suatu desa. Di sana dia bertemu dengan banyak manusia. Sekarang Hayy Bin Yaqzan tidak hanya dihadapkan pada jati dirinya sebagai mahluk bernama ‘manusia’,  tapi juga kumpulan manusia bernama ‘masyarakat’.  Sampai di sini saya harus meminta maaf, karena saya tidak cukup baik dalam mengingat kisah Hayy Bin Yaqzan. Bisa dibilang saya lupa apa yang terjadi dengan Hayy Bin Yaqzan di desa itu. Berdasarkan informasi lain yang saya peroleh, sebelumnya Hayy Bin Yaqzan bertemu dengan seseorang yang bernama Absal. Absal berasal dari pulau tetangga yang memiliki agama dan kitab suci. Absal melakukan perjalanan untuk membuktikan kebenaran kitab sucinya. Dia merasa gundah dengan ajaran agamanya yang hanya ritual dan parade pemujaan. Bersama Absal, Hayy Bin Yaqzan memuntahkan seluruh gundahnya. Bersama Absal selalu ada jenak-jenak pikiran Hayy Bin Yaqzan yang dapat dibandingkan, disandingkan bahkan ditandingkan. Hayy menyampaikan pada Absal apa yang dia temukan dari seluruh tanya yang ada dibenaknya. Hayy tidak bisa memahami apa yang dianut oleh Absal.

Akhirnya Hayy menjadi penasaran dan ingin pergi ke kampung asal Absal untuk menyampaikan kebenaran yang dia yakini. Tetapi ketika sampai di desa dan berdiskusi dengan banyak orang, Hayy Bin Yaqzan menyadari bahwa kebenaran sejati tak mudah diterima oleh orang lain. Hayy merasa bahwa agama di desa itu dibutuhkan hanya untuk sebatas menjaga stabilitas politik dan sosial. Hayy lalu pergi dari desa itu. Namun dari pengalamannya, Hayy justru sampai pada kesimpulannya sendiri. Bahwa dunia tidak terjadi begitu saja. Ada hubungan sebab akibat. Ada konsep bernama ruang dan waktu. Keresahannya justru mengantar Hayy mengenal Tuhan dengan cara yang sangat ‘alami’. Hayy percaya bahwa ada satu kekuatan dibalik seluruh ‘realitas’ yang dihadapinya. Tidak hanya itu Hayy Bin Yaqzan juga menemukan bahwa kesadaran adalah cara terbaik mengenal Tuhan.

Kisah Hayy Bin Yaqzan bisa dikatakan satu karya klasik yang legendaris. Bagi saya Hayy Bin Yaqzan bukan hanya membawa kerinduan pada bunga-bunga ilmu pengetahuan Andalusia. Tapi juga kehausan untuk terus menjawab misteri tentang Tuhan, jati diri dan semesta. Ibnu Thufail sukses membawa satu cerita fiksi pada usaha pendalaman diri pembacanya—yang merupakan manusia biasa. Epik Hayy Bin Yaqzan akan membuat kita mengerti bahwa agama bukan sebatas ritual harian atau parade pemujaan. Selayaknya Tuhan bukanlah patung bisu yang hanya terpaku di langit ketujuh. Bagi saya Hayy juga memberi sedikit pencerahan bahwa ada banyak jalan mengenal Tuhan. Bahkan kadang Tuhan menyapa kita dengan aneka cara, yang  tak pernah terfikir dalam benak.

Ibnu Thufail melalui sosok Hayy seperti ingin berceracau bahwa hidup adalah rangkaian kesadaran. Proses yang tak pernah henti untuk belajar dan berbuat, seperti yang terangkai manis dalam Puisi Iqbal: “Ketika Tuhan menciptakan tanah, aku menciptakan gerabah. ketika Tuhan ciptakan besi, aku ciptakan belati”. Mungkin itulah sebabnya, bicara tentang Hayy Bin Yaqzan selalu mampu membuat saya teringat akan petuah seorang sahabat: “Bahwa tugas pertama seorang manusia adalah berfikir tentang dirinya sendiri!”

Rika Isvandiary, Direktur BPL Foundation.

Admin Mala +62 812 9411 6724 / info@bplfoundation.or.id
Halo, ada yang bisa saya bantu?