(021) 2278 3385 / +62 812 9411 6724 info@bplfoundation.or.id

Ruangan besar yang beberapa menit lalu membuat beku ini perlahan terasa hangat. Satu per satu peserta yang hadir memperkenalkan diri dan organisasi yang mereka wakili. Ada 52 organisasi non profit yang angkat suara. Masing-masing punya fokus yang berbeda, tetapi terhubung dengan satu benang merah: mewujudkan masyarakat yang lebih baik.

Perempuan berjilbab biru dengan lantang berseru pentingnya peduli pada nasib janda. Perempuan yang lebih muda berkisah tentang perjuangannya mendampingi proses belajar anak-anak di NTT. Sementara perempuan cantik yang mulai menua itu berpesan agar jangan meninggalkan survival kanker payudara. Lalu kisah seorang lelaki yang membuat yayasan peduli penderita lupus membuat saya merasa haru. Lelaki yang tak lagi muda itu masih memberikan sumbangsihnya untuk orang-orang yang menderita penyakit yang sama dengan istrinya.

Huft! Saya hilang kata. Sebelumnya saya masih mencari-cari ide untuk artikel Jum’at yang biasa di-posting di akun Facebook BP Lawyers Foundation/Yayasan BPL. Hanya dengan mendengar kisah mereka, saya mendadak ingin menulis. Seperti ada energi entah darimana yang mendorong untuk menyusun aksara—sebagai penghormatan atas perjuangan mereka. Ya, mereka, penggiat sosial yang luput dari liputan media. Bekerja dalam senyap dan kalah pamor dengan isu pergantian menteri Kabinet Kerja. Mereka barisan pelopor yang tak pernah bermimpi menjadi aktivis salon—meningkat citra siri sedemikian rupa hanya untuk sebuah pamor. Saya jadi teringat pertanyaan yang pernah diajukan pada saya dari adik-adik yang ikut mengelola BP Lawyers Foundation:

“Kenapa bersusah payah terjun dalam aktivitas sosial? Bukankah banyak pilihan yang lebih menjanjikan? Kenapa tak memilih hidup yang lebih nyaman saja?”

Lalu saya menjadi gagap untuk menjelaskan dengan kata-kata yang terang. Sebab, Dik, ada beberapa hal yang tak perlu hanya ditanyakan, tetapi juga mesti dirasakan.

Sholih Tapi Tak Berdayaguna

Saya tidak akan lupa kisah itu. Cerita yang sampai pada saya beberapa tahun silam. Beberapa redaksional mungkin tak persis sama. Tetapi semoga tak merubah esensi hikmah yang bisa diambil. Syahdan, dikabarkan ada pemuda yang begitu sholih dan taat beribadah. Malang nasibnya, dia tinggal dalam desa dengan masyarakat yang “sakit”. Kemaksiatan merajalela, orang-orang berbuat zhalim tanpa merasa bersalah, ketidakadilan menjadi pemandangan yang biasa saja. Wajar jika Allah murka pada mahluk-Nya yang melampaui batas dan gemar membuat kerusakan di bumi. Titah-Nya hancurkan saja desa itu. Konon malaikat pun berkata, “Ya Allah, di sana ada hamba-Mu yang sholih, yang siang malam menyembah-Mu”. Lalu Allah berkata, “mulailah darinya, karena dia memiliki ilmu tetapi tak menyeru pada saudaranya. Dia baik, tetapi tidak menularkan kebaikan ke sekitarnya

Azab itu dimulai dari orang yang shalih tetapi tak memberikan dampak apapun pada masyarakat di sekitarnya. Hukuman itu dimulai dari orang yang berilmu, tetapi tak memenuhi kewajiban untuk mengeluarkan saudara-saudaranya dari kebodohan. Sebab manusia diciptakan sebagai mahluk sosial. Tak mampu hidup sendirian, pun tak boleh acuh sendiri. Ada kewajiban yang diemban. Bukan sekedar mengidap “sinterklas syndrome”, merasa sholih dan baik hanya karena berderma satu dua kali. Lebih dari itu, kita adalah umat akhir zaman yang mengemban tugas mulia: “saling menasihati dalam kebenaran dan juga dalam kesabaran”.

Saat Berkorban Bukan Pilihan.

Perutnya sudah membesar, perempuan yang hamil tua itu berusaha mendaki gunung. Dia lolos dari pengawasan kaum Quraisy yang tengah mencari Rasulallah SAW dan Abu Bakar Ash Shiddiq. Jalan terjal mesti ditempuhnya. Calon manusia dalam rahimnya turut pula merasakan pendakian yang tanpa lelah itu. Tak hanya membawa perut yang terasa berat, di kiri dan kanannya masih ada dua kantung makanan untuk Sang ayah dan Rasul tercinta. Perempuan itu—yang mungkin akan segera melahirkan—berkorban demikian besar agar agenda hijrah Junjungan Tercinta berjalan tanpa gangguan. Sejarah lantas memanggil Ibunda Asma Binti Abu Bakar (nama perempuan mulia itu) dengan Dzatin Nithaqain—perempuan yang memiliki dua ikat di pinggangnya.

Kita belajar darinya, hidup memang pilihan. Namun ada kalanya saat tugas-tugas kebaikan memanggil, kita tak perlu lagi berfikir banyak pilihan. Perempuan yang hamil tua itu harusnya berbaring manis di dalam rumah, menanti kelahiran ananda tercinta. Tetapi dia Asma Binti Abu Bakar, putri dari sahabat yang begitu dicintai Rasulallah SAW. Dia paham, tak ada celah menghindar saat tugas mulia “mengawal” hijrah Utusan Allah diberikan padanya. Tunduk! Patuh! Bersiap siaga dengan seribu satu rintangan menghadang, yang mungkin saja mengancam jiwa anak dalam kandungannya. Namun dia Asma Binti Abu Bakar, cukuplah baginya meyakini “siapa yang berbuat kebaikan, maka kebaikan itu akan kembali lagi pada dirinya”.

Jalan Para Pejuang

Kami, yang bergelut dalam dunia filantropi mungkin memang tidak pernah bisa disejajarkan dengan kiprah para generasi pendahulu. Pernah saya hampir menyerah, tetapi saya teringat, Rasulullah saja pernah bersedih saat diabaikan penduduk Thaif, hingga malaikat marah dan hendak memberi pelajaran pada mereka. Tetapi Rasulallah SAW hanya bersabda, “Aku berharap Allah akan mengeluarkan dari tulang rusuk mereka generasi yang menyembah Allah”. Bahkan saat tak ada yang peduli pada seruannya, Rasulallah SAW masih yakin, kelak akan ada generasi yang lebih baik.

Sering saya merasa lelah, tetapi kakak seperjuangan saya dengan tenang menepuk bahu saya. Sahaja suaranya masih terdengar lirih, “Dik, amanah itu dipikul di punggung, bukan di genggam di tangan. Berat dan bisa mematahkan tulang. Sebab tak ada perjuangan yang dijanjikan mudah. Layaknya Rasulallah SAW yang diperintah untuk mendekat pada Allah di sepertiga malam terakhir, karena Beliau akan menerima “Qaulan Tsaqila”, perkataan yang berat. Seruan pada kebaikan menuntut pengorbanan yang tak sedikit. Itulah mengapa mendekat dengan Pemilik Segala menjadi satu-satunya sumber kekuatan”.

Kadang saya merasa jengkel, melihat segelintir “relawan media sosial” atau “aktivis telivisi” pamer kebaikan di muka publik. Tetapi seorang kawan dengan tegas mengingatkan, “kalau sekedar mengejar pujian dan tepuk tangan, janganlah susah payah menjadi aktivis, rajin berhias saja hingga jadi artis. Sebab kalau cuma popularitas yang dikejar, bukan di sini tempatnya”.

Ya, dunia sosial ini, kehidupan saling berbagi yang mulai terasa mewah, bagaimanapun telah menjadi candu yang membuat kami mengiyakan petuah para ulama, “jika mereka tahu kenikmatan yang kami rasakan, niscaya mereka akan merebutnya dengan pedang mereka”. Mengamini sindiran Hamka yang terus mendengung sepanjang masa, “jika hidup hanya sekedar hidup, kera di rimba juga hidup”. Maka cukuplah hidup diisi dengan amal dan kontribusi, agar kelak kata-kata Rahmat Abdullah tak melekat pada kita,

“Jangan sampai keberadaan kita di dunia hanya dikenang sebatas tiga baris kalimat di batu nisan. Si Fulan Bin Fulan, lahir tanggal sekian, mati tanggal sekian” (Rahmat Abdullah)

Wallahu’alam

Rika Isvandiary, Direktur BPL Foundation

Admin Mala +62 812 9411 6724 / info@bplfoundation.or.id
Halo, ada yang bisa saya bantu?