ARI: Penghapal Qur’an dari Pulau Bangka
Menghapal Al Qur’an memang tidak mudah. Namun dengan semangat dan terus belajar, menghapal Al Qur’an 30 juz bukanlah mimpi semata. Ini dibuktikan Hariyadi, remaja berusia 20 tahun dari Pulau Bangka yang sudah hapal Al Qur’an 29 Juz.
Tidak terasa sudah 2 tahun lebih Rumah Tahfidz Ar Rahman berjalan. Rumah Tahfidz Ar Rahman dihuni 10 santri penghapal Al Qur’an yang juga mahasiswa di UI dan LIPIA. Berbagai kegiatan menarik pun seringkali digelar di Rumah Tahfidz yang terletak di daerah Kavling Polri Ampera ini. Para santri tak tinggal sendiri, mereka didampingi satu orang Ustadz (yang juga tinggal di Rumah Tahfidz) untuk membantu mereka menghapal Al Qur’an. Sementara setiap akhir pekan, ada Ustadz Ahmad Suhari yang datang untuk tes hapalan.
Kebetulan beberapa bulan lalu, Ustadz pendamping di Rumah Tahfidz Ar Rahman baru saja diganti. Ustadz Hariyadi (yang lebih suka dipanggil Ari) ditunjuk menggantikan Ustadz Heri yang sudah menikah. Awalnya ada rasa khawatir saat Ari yang diamanahkan di Rumah Tahfidz. Umur Ari lebih muda dari umur anak-anak di Rumah Tahfidz. Usianya baru 20 tahun, tapi hapalannya sudah 29 Juz. Meski begitu muda, ternyata Ari punya cerita dan pengalaman yang menarik serta tak biasa.
Masa Lalu yang Menjadi Pelajaran
Ari berasal dari Bangka. Dia sangat dekat dengan kakeknya. Konon dialah cucu kesayangan sang kakek. Ketika SD, kakeknya selalu mengantar dan menjemputnya naik sepeda. Sampai ketika kakeknya meninggal, badan Ari panas tinggi. Ari baru sembuh ketika dibawa melayat dan menemui jenazah kakeknya.
Uniknya, Ari tak pernah belajar mengaji. Ibunya adalah guru ngaji, tapi dia tak mau mengaji dengan Ibunya. Akhirnya Ari dikirim untuk belajar mengaji di tempat lain, tapi dia malah berulah dan nakal. Ibunya pun tak lagi menyuruhnya mengaji. Tapi Ari kecil rupanya tetaplah seorang pembelajar. Dia mengintip Ibunya ketika mengajar ngaji dari lubang kecil yang ada di rumah mereka. Dari sanalah dia bisa mengaji.
SMP Ari mirip dengan kondisi sekolah dalam Film Laskar Pelangi. Fasilitasnya sangat minim. Muridnya hanya 10. Delapan murid di sekolah itu sering bolos. Hanya ada Ari dan kawannya yang setia masuk sekolah setiap hari. Walau hujan, walau teman-temannya tak hadir, walau guru honorer di sekolah itu tidak datang. Ari dan seorang kawannya itu tetap ingin sekolah. Kawan Ari ini terkena tipes akut, sehingga perilakunya mirip dengan anak down syndrom. Alhasil Ari selalu ranking 1 di kelasnya. Sementara kawannya selalu ranking 2.
Sebab sekolahnya tak layak lagi, Ari dan teman-temannya dipindahkan ke sekolah lain. Mereka sering dihina oleh murid-murid sekolah itu. Seolah mereka adalah anak-anak dari sekolah yang tidak bermutu. Ari sempat sedih, tapi dia tetap semangat. Ari pun terus belajar. Saat kelulusan tiba, Ari bisa lulus dengan nilai yang baik. Sementara mereka yang menghinanya justru tak lulus ujian. Ini menjadi pengalaman berharga baginya.
Mengejar Mimpi Menjadi Penghapal Al Qur’an
Ari lalu berangkat ke Jakarta. Kakaknya berjanji untuk membiayai kuliahnya. Sampai di Jakarta, ternyata Ari malah dimasukkan pesantren di Bogor. Ari tidak bisa bertahan di sana. Akhirnya sang kakak membawa Ari ke Rumah Tahfidz Al Hidayah untuk menjadi penghapal Al Qur’an. Dia pasrah saja. Ari memang tak pernah menyangka, kalau menghapal Al Qur’an ternyata begitu menyenangkan. Mungkin karena dasarnya Ari anak yang cerdas, sehingga aktivitas menghapal tidak terlalu sulit baginya.
“Saya hitung dalam 1 halaman Al Qur’an pojok ada 15 baris. Saya membagi menjadi 3 bagian. Masing-masing 5 baris. Lalu 5 baris itu saya ulang berkali-kali. Sampai hapal” Ujar Ari saat berbagi tips menghapal Al Qur’an.
Tak terasa sudah 3 tahun Ari tinggal di Rumah Tahfidz Al Hidayah. Saat Rumah Tahfidz Ar Rahman membutuhkan Ustadz pendamping, Ari-lah yang akhirnya diberikan amanah meskipun hapalannya masih kurang 1 juz lagi. Sampai saat ini Ari masih meneruskan hapalan Al Qur’an-nya di Rumah Tahfidz Al Hidayah agar mantap mencapai 30 Juz. Ari mengakui, menghapal Al Qur’an bukanlah perkara mudah, apalagi bagi pemula.
“Dulu saat baru menghapal Al Qur’an, saya harus membaca Qur’an lebih dulu sampai 10 Juz dalam sehari. Saya siasati dengan membaca 2,5 Juz setelah Subuh, kemudian 2,5 juz dari jam 9 pagi sampai jam 12 siang. Setelah itu membaca sisanya” Ari mengenang kembali saat-saat di mana dia mulai menghapal Al Qur’an.
Ari juga mengingatkan pentingnya memperhatikan makhraj huruf saat membaca dan menghapal Al Qur’an. Bukan satu atau dua kali ditemukan anak-anak yang banyak hapalan Al Qur’an-nya, namun ternyata sering melakukan kesalahan dalam lafaz ataupun tajwid. Tak heran jika Ari menekankan agar membiasakan diri membaca Al Qur’an dengan tartil.
“Kalau terbiasa membaca Al Qur’an perlahan dengan makhraj yang baik, membaca cepat pun bisa. Tapi kalau terbiasa membaca cepat, ketika diminta membaca dengan perlahan malah jadi berantakan” tambahnya lagi
Jika ditanya keinginannya sekarang, Ari hanya ingin menuntaskan hapalan Al Qur’an hingga 30 juz. Lalu menjalani masa pengabdian satu tahun dengan mengajar. Setelah itu dia akan kembali lagi ke kampung halamannya. Bukan untuk usaha ataupun bekerja, tapi mengembangkan pencak silat. Ya, Ari ternyata atlet daerah. Dia pernah mengikuti beberapa kejuaraan pencak silat. Dia juga akan menyisipkan muatan dakwah di sela-sela waktunya mengajar silat. Apa yang ada di dalam kepalanya memang tak mudah ditebak. Dia tak seperti anak kebanyakan yang punya banyak mau, tapi terjebak dalam zona nyaman.
“Mainlah ke Bangka, di Gunung Menumbing ada tempat pengasingan Soekarno. Saya sempat berdiskusi dengan budayawan Bangka tentang hari-hari Soekarno di pengasingan. Haha…budayawan itu kesal sekali dengan Soekarno. Mungkin sekarang budayawan itu masih hidup” ujarnya sore itu. Tak disangka, selain pandai menghapal, Ari rupanya suka sejarah dan senang diskusi.
Rika Isvandiary
[/et_pb_text][/et_pb_column][et_pb_column type=”1_3″][et_pb_sidebar admin_label=”Sidebar” orientation=”left” area=”sidebar-1″ background_layout=”light” remove_border=”off” /][/et_pb_column][/et_pb_row][/et_pb_section]
