fbpx

5 Langkah Marketing Jasa Hukum

“Banyak legalpreneur kebingungan saat memasarkan jasanya. Minimnya kemampuan lawyers atau konsultan dalam pemasaran disinyalir menjadi salah satu kendala. Padahal, ketepatan strategi marketing sangat menentukan nasib kantor hukum ke depan.

Kadang sebagai legalpreneur (legal entrepreneur), anda terlalu bersemangat saat menjelaskan manfaat jasa hukum yang ditawarkan. Seolah-olah layanan yang ditawarkan sudah pasti dibutuhkan oleh klien. Legalpreneur lupa untuk melakukan validasi, apakah jasa hukum yang ditawarkan mampu menjadi solusi yang efektif untuk klien?

Validasi menjadi penting, sebab aktivitas marketing pada dasarnya merupakan seni memahami keinginan klien. Bila hal ini tidak diperhatikan dengan baik, bukan tidak mungkin jika legalpreneur keliru dalam menetapkan strategi marketing.

Ya, strategi marketing dalam layanan jasa hukum memang bukan perkara mudah. Legalpreneur terikat dengan kode etik yang harus dipenuhi saat mengenalkan jasa hukum yang ditawarkan. Agar kegiatan marketing berjalan efektif,  anda dapat mengikuti lima langkah berikut:

 

1. Identifikasi Customer Value

Tahapan ini merupakan bagian penting. Legalpreneur harus jeli menangkap customer insight. Penting bagi legalpreneur untuk memahami situasi yang sedang terjadi pada dalam dunia teknologi, sosial kemasyarakatan, ekonomi, budaya, dan kondisi pasar.

Langkah awal mengidentifikasi customer value dilakukan dengan menentukan segmen pasar. Hal ini dilakukan agar legalpreneur dapat memetakan calon klien yang potensial. Pemetaan dapat dilakukan berdasarkan geografis, behaviour, jenis kelamin (gender), profesi, dan lain-lain. Selanjutnya legalpreneur dapat memilah klien potensial sesuai dengan value yang dimiliki.

 

2. Creating

Setelah melakukan identifikasi customer value, legalpreneur mulai fokus berkreasi untuk mencari solusi atas permasalahan atau pain yang dihadapi oleh calon klien.

Creating bukanlah sekedar mencipta ide. Proses ini menuntut legalpreneur menyusun strategi jitu untuk menawarkan solusi efektif yang sesuai dengan karakter dan kebutuhan calon klien yang dituju.  Legalpreneur harus banyak melakukan riset untuk menghasilkan rencana aksi yang mumpuni. Jangan lupa, legalpreneur juga harus mempertimbangkan kapasitas dan kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM) yang dimiliki.

 

3. Delivering

Delivering memaksa legalpreneur menjalankan konsep creating secara total. Penting bagi legalpreneur untuk menunjukkan performa jasa hukumnya sebaik mungkin.

Supaya delivering berjalan sukses, legalpreneur wajib memiliki infrastruktur yang mumpuni.  Keadaan ini menuntut legalpreneur tidak tanggung-tanggung dalam menggelontorkan dana untuk operasional, fasilitas, dan teknologi yang tepat sasaran. Legalpreneur mengerti benar jika kekuatan infrastruktur akan berpengaruh signifikan dalam menunjang strategi marketing yang dijalankan.

 

4. Communicating

Communicating berbicara soal menyampaikan pesan pada klien sesuai customer value. Tahap ini menuntut legalpreneur menampilkan strategi komunikasi yang komprehensif dan mudah dipahami. Legalpreneur harus menyampaikan manfaat dan nilai lebih produk sebagai poin utama.

Legalpreneur juga sebaiknya melakukan strategi komunikasi dengan cara storytelling. Metode storytelling ini menjadi pilihan ampuh yang mampu menjembatani value dengan jasa hukum yang ditawarkan. Agar bisa menggunakan storytelling sebagai bagian strategi communicating, legalpreneur harus bisa membuat cerita yang dipercaya sekaligus disukai calon klien.

Syarat utama membuat kisah yang baik adalah dengan melakukan komunikasi dengan orang yang akan mendengarkan cerita. Klien dapat dilibatkan dalam proses penyusunan cerita atau mungkin saja cerita yang dibangun justru berdasarkan dari pengalaman klien sendiri.

 

5. Maintaining dan re-identifying

Maintaining berarti menjaga perfoma layanan jasa hukum yang ada dengan baik. Namun sekedar memelihara kinerja tidaklah memadai, legalpreneur harus selalu memeriksa kembali kesesuaian antara value yang dibangun dengan performa jasa hukum yang diberikan.

Legalpreneur sebaiknya menjalankan re-identifying secara berkala. Tujuannya tentu beradaptasi dengan tren yang sedang berjalan. Identifikasi ulang ini sedikit banyak akan membuat perubahan berkala pada kegiatan operasional tanpa menghilangkan esensi jasa layanan hukum itu sendiri.

 

Bina Pengetahuan Legal Foundation

Connecting Law & Entrepreneurship

Ingin mendalami soal marketing bagi bisnis jasa hukum? Ikuti Legalpreneursive pada tanggal 19 Juli 2017 dengan tema Networking and Marketing For Legal Office. Anda berminat mengadakan event sejenis? Hubungi Bina Pengetahuan Legal (BPL) Foundation melalui nomor 081294116724 / 082211958277 atau melalui email info@bplfoundation.or.id untuk info lebih lanjut.

 

Aditya Anugra Pratama

Sumber:

  1. Integrating Marketing and Entreprenurship (Marketeers Edisi Sepetember 2016).
  2. Hendryono, Handoko, Semua Orang adalah Brand Gardener, Jakarta: Penerbit Literati, 2012.
  3. Maulana, Amalia E., Brandmate Mengubah Just friends menjadi Soulmates, Jakarta: ETNOMARK Counsulting, 2012.

Leave a Comment